Pentingnya FIFA Licencing untuk Klub Indonesia

GaraBOLA Berita Sepak Bola Terkini Pentingnya FIFA Licencing untuk Klub Indonesia

INILAHCOM, Jakarta - Arief Putra Wicaksono menilai perlunya lisensi klub serta pemberdayaan fans dalam menyokong aktifitas klub sepakbola di Indonesia. Dua hal ini ia sampaikan dalam visi-misi sebagai calon ketum PSSI 2019-2023.

Dalam proses penentuan bakal calon ketum PSSI, Arief dinyatakan lolos oleh Komite Banding Pemilihan (KBP). Ia bakal berebut suara dalam Kongres Pemilihan Ketum PSSI 2019-2023 di Hotel Shangri-la, Jakarta, Sabtu (2/11/2019) mendatang.

Lama menggeluti sports event, Arief punya jaringan dengan banyak klub-klub elite dunia serta pemahaman bagaimana mengelola klub secara profesional dan berkesinambungan. Bukan cuma menekankan pada aspek prestasi, Arief juga memperhatikan profesionalitas mengelola sebuah klub.

"Program saya salah satunya adalah FIFA club licencing adalah untuk memenuhi standar FIFA untuk lisensi klub, salah satunya dengan cara program sister cluv dengan memberikan asistensi pada klub-klub Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 dari klub-klub Eropa karena mereka punya pengalaman dalam mengelola sepakbola," kata Arief dalam diskusi olahraga bertajuk Mencari Ketum PSSI yang Ideal yang diadakan SIWO PWI Pusat dan PSSI Pers di Wisma Kemenpora, Rabu (30/10/2019) siang WIB.

"Sejauh ini saya sudah punya kesepakatan dari 25 klub Eropa untuk dateng ke Indonesia yaitu AC Milan, Inter Milan, Ajax, Barcelona, Feyenoord dan masih banyak lagi. Hal itu saya lakukan sebelum saya berada di bawah panji PSSI. Jadi, jika saya terpilih jadi ketum pssi tentu akan sangat mudah mendatangkan klub dari eropa untuk membantu klub-klub di Indonesia yang harus dibangun secara serempak," ia menambahkan.

Arief optimistis program KUR yang akan menjangkau suporter klub bakal memberi dampak signifikan pada kesejahteraan fans sebagai salah satu komponen klub serta. Jika setiap suporter mampu membeli tiket setiap pertandingan, maka akan bermuara pada pemasukan klub itu sendiri.

"Karena masalah di sepakbola ini bisa diatasi dengan program saya yaitu program KUR karena kita gak bisa ketergantungan hanya pada sponsor. Saya lama di event, dan tahu gak ada sponsor yang mau biayai 100 persen dari acara. Jadi kita harus biayai dengan KUR. Sedangkan di sepakbola modern pembiayaan/pemasukan di tiket."

"Di Indonesia kita gak bisa terlalu berharap fans datang untuk membeli tiket. Dengan adanya program KUR, fans punya penghasilan dan datang ke stadion dengan membeli tiket," ia menambahkan.

Arief tak khawatir program yang disusunnya akan sia-sia jika tidak terpilih sabagai Ketum PSSI baru. Ia mengaku sudah menyiapkan langkah strategis untuk membawa modernisasi ke dalam pengelolaan sepak bola Indonesia.

"Awalnya berpikir membawa Frank de Boer jadi pelatih kepala, tapi saya mengapresiasi kerja coach Fachri (Husaini). Olehkarena itu, saya berpikir pelatih sekelas Frank de Boer bisa jadi tehnical director di Indonesia untuk membantu Coach Fachri. Ada sebuah penelitian dari Ajax yang menyatakan sepakbola kita tertinggal 20 tahun masalah pengetahuannya. Artinya kalau kita ingin bersaing di level dunia kita butuh tenaga asing tersebut."

"Jika tidak terpilih? Saya akan mendekati ketua terpilih menawarkan program saya. Jika ketua tersebut punya program lain, saya akan melakukan pendekatan ke klub-klub saja. Sejauh ini memang ada beberapa klub tertarik melakukan program saya," ia memungkasi.

Pentingnya FIFA Licencing untuk Klub Indonesia